.gradient { background: -webkit-gradient(linear, left top, left bottom, color-stop(0, #fafafa), color-stop(1, #f5f5f5)); } - See more at: http://www.seoterpadu.com/2015/01/7-cara-mempercantik-tampilan-blog.html#sthash.3B05lUGi.dpuf

Jumat, 13 Mei 2016

Bangunan Bersejarah

 Eks Rumah Tuan Kongsi (vertegenwoordiger)
Bangunan yg eks kediaman Tuan kongsi ini dibangun pada tahun 1906, sekarang tinggal tersisa reruntuhannya saja yang ada. Pada waktu itu bangunan tersebut didirikan di atas bukit Gunung Pandan, disebelah barat lapangan tenis Tanjung Pendam yang masih termasuk wilayah Museum Daerah di Tanjung Pendam.
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbtanjungpinang/2014/06/06/bangunan-bersejarah-di-pulau-belitung/

Bangunan Bersejarah

Wisma Samudera
Wisma Samudra yang terletak di Toboali ini merupakan bangunan bersejarah. Bangunan ini merupakan salah satu tempat pemerintahan pada zaman kolonial Belanda. setelah belanda hengkang, tepatnya pada tahun 1948, ditemani Mr. Agus Salim, Mr. Leimina dan Mr. Suryadarma, Bung Karno dihalaman Wisma Samudera membakar semangat perjuangan masyarakat Toboali dengan retorikanya yang amat terkenal dan mampu mengeskalasi naluri dan jiwa kebangsaan rakyat. Hal tersebut menjadi sejarah kota tobali yang menjadi ibukota Kabupaten Bangka Selatan yang terletak sekitar 125 KM dari ibukota Bangka Belitung Pangkalpinang. 

Babgunan Bersejarah

Masjid al-Ikhlas
Masjid yang dulunya dijadikan tempat basis perjuangan melawan penjajah ini dibangun pada tahun 1817. Masjid ini berlokasi di di Desa Sijuk, Belitung. Dengan sejarah perjuangan yang kental mewarnainya, masjid ini juga ternyata merupakan masjid tertua yang pernah ada di Belitung. Karena kondisi masjid yang perlu perbaikan, maka pada tahun 2008 masjid ini mengalami pemugaran kembali. Dilihat dari bentuk fisiknya, masjid ini berukuran delapan kali delapan meter. Bagian mihrab agak menjorok dari bangunan utama dan diberi atap dengan bentuk yang sama dengan bangunan utamanya yakni berbentuk limas tumpuk dua dengan kubah kecil atasnya. Bagian atas mihrab tertera tanggal perbaikan masjid dengan huruf Arab Melayu, bertuliskan “diperbaiki 1 Rajab 1370 Hijriyah”.

Bangunan Bersejarah

E.C (Electrische Centrale) Samak – Manggar
E.C (Electrische Centrale) pada masanya adalah salah sebuah bangunan penting yg dibangun di Bukit Samak – Kec. Manggar Belitung Timur pada tahun 1909 oleh perusahaan Belanda, Billiton Maatschappij. Billiton Maatschappij merupakan perusahaan milik kerajaan Belanda yg memiliki kuasa menambang timah di wilayah Bangka, Belitung dan beberapa tempat lainnya di masa penjajahan. Begitu fenomenalnya kisah bangunan E.C itu, hingga tak satupun penduduk Belitung yg tidak mengenal namanya.
Bangunan tersebut adalah sebuah stasiun pembangkit listrik bertenaga diesel. Pada masanya E.C sempat di klaim sebagai PLTD terbesar di Asia Tenggara. Mesin diesel sebagai pembangkit daya, pernah diperbaharui pada tahun 1955 dengan mendatangkan mesin diesel 4 tak/langkah, 10 cylinder produksi Stork-Hesselman – Belanda. Mesin tersebut mampu menghasilkan tenaga berkekuatan 2400Hp dg daya yg dihasilkan sebesar 1650 KW. Tidak tanggung-tanggung sebuah telaga turut difungsikan sebagai sumber pendingin untuk mesinnya. Getaran mesinnya dapat kita rasakan sampai radius kurang lebih 1 km.
Dengan kapasitas daya sebesar itu, E.C mampu memenuhi kebutuhan listrik untuk 4 kecamatan pada waktu itu. Beberapa tangki berukuran besar disiapkan di tempat lain yaitu di pinggir pantai tak jauh dari bangunan E.C berada, khusus untuk menampung supply bahan bakar solar mesin dieselnya. Penduduk sekitar mengenal tempat tersebut dengan nama Olie Pier. Olie Pier sebenarnya dalam bahasa belanda kurang lebih artinya adalah pangkalan/pelabuhan minyak.

Namun amat disayangkan, bangunan tua yg seharusnya dapat dijadikan monumen untuk mengenang masa keemasan penambangan timah di P. Belitung. Bangunan tersebut sekarang telah rata dengan tanah akibat dari perbuatan tangan-tangan yang tidak bertanggung-jawab. Tinggal puing-puing bangunannya saja yg dapat disaksikan. Peristiwa tersebut terjadi ketika Belitung mengalami masa-masa sulit pasca PT. Timah. Sebagian besar bahan bangunan terutama bagian yg terbuat dari besi dan tembaga menjadi target penjarahan oknum-oknum yg tidak bertanggung-jawab tersebut. Seperti beberapa bangunan buatan Belanda lainnya, konon katanya sepasang pengantin Belanda lengkap dengan pakaian pengantinnya ikut dikuburkan di dalam sebuah ruangan khusus yg berada di bagian dasar bangunan E.C tersebut sebagai tumbal. Entah benar atau tidaknya, mitos tersebut telah menjadi bahan pembicaraan masyarakat setempat sampai saat ini.

Bangunan Bersejarah

 Jam Gede
Ada begitu banyak situs-situs bangunan bersejarah di Belitung yang telah berubah posisi dari lokasi awalnya bahkan ada juga yang telah hilang tanpa diketahui dimana rimbanya. Diantara semua yang sudah berubah adalah Jam Gede yang ada di Kota Tanjungpandan, Ibukota Kabupaten Belitung. Jam Gede merupakan situs sejarah yang menjadi Landmark Kota Tanjungpandan yang terletak di menara sebuah gedung yang sekarang menjadi Bharata Department Store. Menurut Rosihan Sahib , Jam Gede yang ada sekarang ini bukanlah Jam Gede asli, melainkan sudah diganti dengan yang baru. Rosihan menggambarkan jam gede asli sama dengan jam yang ada di Kota Amsterdam, Belanda. Bandul Jam Gede ini terbuat dari kuningan. Warna dasarnya agak kekuning-kuningan dan angka-angka yang tertera pada jam tersebut adalah angka-angka Romawi. Menurut Rosihan “Yang pasti Kota Tanjungpandan kehilangan landmark-nya yaitu Jam Gede. Tidak tahu siapa yang menyimpan atau mengambilnya,” Mengapa bisa demikian? Ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena kurangnya kepedualian pemerintah setempat dan masyarakat agar peduli dengan benda-benda atau situs seperti Jam Gede tersebut. Beberapa waktu belakangan ini telah dibangun di boulevard Kota Tanjungpandan, Tugu Batu Satam, yang konon katanya akan difungsikan sebagai landmark Kota Tanjungpandan untuk menggantikan Jam Gede.

Bangunan Bersejarah

Rumah Tuan Kuase (Hoofdadministrateur)
  Sejarah Rumah Tuan Kuase atau Hoofdadministrateur tercatat dalam catatan harian John Francis Loudon berjudul ‘De eerste jaren Der Billiton-Onderneming’, dan telah diterbitkan tahun 1883 dalam bentuk buku. Dalam buku itu John Francis Loudon menceritakan masa pertama kali dia melakukan eksplorasi timah di Pulau Belitung pada tahun 1851.
Dengan Van Tuyl dibicarakan apakah sudah diperlukan untuk pengangkatan seorang Hoofd-Administrateur dari usaha yan sedang dijalankan. Yang harus memegang jabatan ini haruslah seseorang yang mengetahui seluk beluk pertambangan timah dan untuk ini hanya bisa didapat dari Bangka. Dalam penilaian nantinya yang tepat adalah Heydeman. Rencana selanjutnya adalah Van Tuyl akan menghubungi Heydeman di Sungai Selan dan saya beserta De groot akan menjelajahi Pulau Belitung karena hal ini sangat diperlukan untuk mendapatkan lebih banyak keterangan tentang pulau ini.
   Eks. Rumah Tuan Kuase atau Hoofdadministrateur terletak sekitar 250 merter dari objek wisata Pantai Tanjungpendam, Juga tidak begitu jauh dari pusat Kota Tanjungpandan yang merupakan ibukota Kabupten Belitung. Ini merupakan bangun bersejarah peninggalan Belanda yang dilindungi oleh Undang – Undang Tentang Cagar Budaya.
Bangunan Eks. Rumah Tuan Kuase merupakan salah satu dari sekian banyak bangunan bersejarah sekaligus Benda Cagar Budaya peninggalan Hindia Belanda yang ada di Belitung yang masih terawat sangat baik. Tidak begitu banyak informasi yang saya dapatkan tentang Rumah Tuan Kuase atau Hoofdadministrateur ini, jika melihat halaman depan rumah ini yang selalu rapi dan bersih, sudah dapat dipastikan bahwa bangunan Benda Cagar Budaya yang satu ini sangat terawat dengan baik sekali. Selain sebagai bangunan peninggalan yang sarat akan nilai historis namun memiliki keunikan. Pada beberapa sudut halaman bangunan terdapat batu granit yang cukup besar serta diteduhi oleh beberapa pohon Beringin besar yang kalau menurut saya sudah berumur ratusan tahun, seiring dengan pembangunan awal Hoofdadministrateur ini.
Berkunjung ke kawasan Tanjungpendam, setiap pengunjung tidak hanya akan disajikan dengan bangunan Benda Cagar Budaya seperti Eks. Rumah Tuan Kuase yang sarat makna historis akan tetapi setiap pengunjung bisa melihat dan menikmati panorama Pantai Tanjungpendam. Pantai ini merupakan salah satu pantai terbaik yang dimiliki Belitung untuk menikmati sunset.

Bangunan Sejarah

Bendungan Pice
Konon bendungan kecil ini adalah cikal-bakal Bendungan Pice. Bendungan ini dibangun untuk mengatur ketinggian dan debit air yg berasal dari hulu Sungai Lenggang, untuk menunjang pengoperasian EB II yg pada saat itu beroperasi di areal sekitar hilir Sungai Lenggang. Namun sayangnya, bendungan ini sudah tidak dapat kita temui lagi. Tinggal sedikit sisa2 bangunannya saja yg bisa kita lihat.Bendungan yg menjadi ikon Kec. Gantung ini sekarang masih berdiri dan berfungsi dg baik. Lokasinya berada di Desa Canggu. Bendungan ini di dirikan pada tahun 1928, istilah “Pice” diambil dari nama sang arsitek yg merancang bendungan ini yaitu Mr. Vance.Bendungan peninggalan belanda di Belitung.
merupakan sebuah bangunan peninggalan sejarah yang terletak dibagian hulu sungai Lenggang.
Bendungan yang lazim disebut “PICE” oleh masyarakat setempat diambil dari nama “Sir vance”, yaitu seorang Insinyur Arsitek Belanda yang membangunnya, merupakan sebuah bangunan peninggalan sejarah yang terletak dibagian hulu sungai Lenggang Kota Gantung.
Bendungan yang tidak kurang dari 50 meter panjangnya ini dibangun pada tahun 1936-1939.  Mempunyai 16 pintu dengan ukuran 2,5 meter dari tiap pintunya. Dari sinilah air terjun dengan ketinggian 10 meter.

Dulu pada masa penambangan timah masih diusahakan oleh perusahaan milik Belanda (GMB), bendungan tersebut berfungsi sebagai alat pengatur tinggi rendahnya permukaan air guna mempermudah sistem kerja kapal keruk melakukan eksplorasi timah.