.gradient { background: -webkit-gradient(linear, left top, left bottom, color-stop(0, #fafafa), color-stop(1, #f5f5f5)); } - See more at: http://www.seoterpadu.com/2015/01/7-cara-mempercantik-tampilan-blog.html#sthash.3B05lUGi.dpuf

Senin, 02 Mei 2016

Alat musik tradisional

Rebana



Alat musik yang satu ini sering dimainkan bersama-sama dengan dambus juga. Alat berbentuk seperti gendang ini dimainkan guna mengiringi musik dambus dan tarian atau dincak Bangka. Alat musik yang masuk dalam kategori alat musik pukul ini sering dimainkan pada acara festival seni daerah, qasidah pengajian-pengajian, ataupun untuk menyambut tamu istimewa dengan iring-iringan tertentu. Jika rebana ini ditepuk secara beramai-ramai dengan tempo yang cepat di Bangka dikenal dengan istilah rampak atau ngerampak.

Meskipun rebana ini juga dimainkan di daerah lain, namun alat musik rebana ini jika di Bangka Belitung seperti sudah menjadi kewajiban. Setiap-setiap acara yang diselenggarakan seperti festifal seni daerah, takbir keliling juga sering menggunakan rebana ini untuk mengisi lantunan musik dan vokal. Rebana sendiri adalah gendang berbentuk bundar dan pipih. Bingkainya terbuat dari kayu yang dibubut, salah satu bagiannya dilapisi dengan kulit kambing guna untuk ditepuk sehingga menimbulkan suara yang beragam.

Rebana juga terdiri dari berbagai macam bentuk juga ukuran. Dari yang berdiameter besar hingga yang berdiameter kecil. Semua digunakan sesuai dengan kebutuhan karena suara yang ditimbulkannya. Ada juga yang panjang hampir sama seperti gendang. Perbedaan antara rebana yang satu dengan rebana yang lainnya juga terletak pada kaleng-kaleng di samping rebana yang dengan teknik tertentu akan berbunyi "crik-crik" dan jika dipukul biasa akan berbunyi "crek-crek". Kaleng-kaleng seperti yang terdapat pada tamborin itu dibuat dari bahan kuningan atau stainless steel.

Peranan rebana ini penting sekali untuk meramaikan alunan musik dan vokal yang terdengar. Alunan dambus juga akan terasa sunyi jika tidak di iringi oleh rebana ini. Apalagi bunyi "crik-crik" dari rebana itu sendiri menjadi alunan musik yang terdengar menjadi lebih meriah. Tidak kalah dengan musik-musik modern lainnya. Jika Anda mendengar musik ini pasti akan terhibur, apalagi lantunan musiknya banyak mengandung nasihat dan petuah. 

Namun sekarang sudah jarang sekali bujang-bujang dan miak-miak Bangka yang mau memainkan alat musik tradisional ini. Mereka lebih memilih memukul drum atau pun memainkan gitar. Padahal alat musik peninggalan nenek moyang ini juga tidak kalah serunya dibandingkan dengan musik-musik modern sekarang. Beruntunglah sekarang sudah banyak yang mau mengembangkan dan mendirikan sanggar seni daerah yang bertebaran diseluruh Kepulauan Bangka Belitung. Sehingga harapan kita semua untuk melestarikan seni musik daerah terwujud, dan anak bangsa tidak melupakan tradisi serta kesenian leluhurnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar