.gradient { background: -webkit-gradient(linear, left top, left bottom, color-stop(0, #fafafa), color-stop(1, #f5f5f5)); } - See more at: http://www.seoterpadu.com/2015/01/7-cara-mempercantik-tampilan-blog.html#sthash.3B05lUGi.dpuf

Jumat, 06 Mei 2016

Adat Pernikahan

Pulau Belitung
            Belitung adalah kabupaten kepulauan yang dikelilingi hampir 200 pulau besar dan kecil. Sejak akhir tahun 2000, kabupaten berpenduduk lebih dari 2 ratus ribu jiwa ini menjadi bagian dari propinsi Bangka Belitung. Beragam etnis hidup berdampingan di kawasan yang memiliki panorama indah ini. Kesenian rakyat Belitung umumnya berbau Melayu, dengan menggabungkan tradisi sebelum dan sesudah masuknya Islam ke daerah ini. Kentalnya budaya Melayu amat terasa pada upacara pernikahan adat setempat.
            Dalam adat Belitung, tak harus seorang wanita yang dilamar, saat menjelang perkawinannya. Bisa saja, prialah yang dilamar oleh calon pendamping hidupnya. Hal ini menandakan masyarakat Belitung selalu luwes dalam memandang anggota masyarakatnya. Tidak mesti pria yang dominan dibanding perempuan, ataupun sebaliknya. Semuanya diselesaikan melalui kesepakatan kedua belah pihak.
            Pelaksanaan upacara pernikahan adat Belitung biasanya membutuhkan waktu 3 hari 3 malam. Bahkan bisa mencapai 7 hari 7 malam. Hari pertama, adalah saatnya mengetuk pintu. Pada hari pertama ini calon pengantin pria tidak menyertakan kedua orang tuanya. Sang mempelai didampingi oleh saudara ayah atau ibu. Rombongan mempelai pria tidak lantas begitu saja masuk ke dalam rumah. Ada 3 pintu yang harus mereka lewati. Berebut lawang, demikian istilah yang dikenal di Belitung.
`           Di pintu pertama ini, sebaris pantun diucap rombongan tamu. Sebaris pantun pula dibalas tuan rumah, diwakili tukang tanak, orang yang memasak nasi. Tak habis sebaris, pantunpun berlanjut. Intinya adalah menyampaikan maksud kedatangan rombongan tamu yang didengarkan oleh tukang tanak. Namun bukan berarti rintangan sudah usai. Masih ada 2 pintu lagi yang harus dilalui rombongan mempelai pria.
            Di pintu kedua, kali ini mereka harus berhadapan dengan Pengulu Gawai, yang merupakan pemimpin hajatan. Berbalas pantun kembali dijalin. Pengulu gawaipun menanyakan maksud kedatangan rombongan tamu. Dua pintu telah dilalui, namun belumlah cukup. Masih tersisa satu lagi. Yang terakhir, pintu ketiga dikawal Mak Inang, seorang juru rias pengantin.
            Mak Inang menanyakan barang bawaan atau sire rombongan tamu yang hendak meminang. Dengan sire berarti keluarga besar rombongan tamu mempunyai niat mengikat tali persaudaraan. Lewat pintu ini, barulah lega rombongan tamu. Hantaran dan tipak yang dibawa rombongan tamupun beralih tangan. Seperangkat tempat sirih lengkap, yang menyimpan 17 macam barang, menggambarkan jumlah rakaat shalat dalam 1 hari, kini di tangan tuan rumah. Demikian pula dengan sejumlah uang, yang berkelipatan lima. Angka lima melambangkan jumlah shalat wajib bagi kaum muslim.
            Sang pengantin pria, akhirnya dipertemukan dengan pujaan hati, yang segera akan dinikahinya. Akad nikahpun digelar. Hari kedua, saat bejamu, lebih menyiratkan rasa persaudaraan dua keluarga yang telah dipersatukan ini. Di hari kedua, orang tua pengantin pria yang selama ini diwakilkan barulah muncul, dipertemukan dengan pihak keluarga dan orang tua pengantin wanita.

            Peran Mak Inang, begitu sangat terasa di hari kedua ini. Bahkan bisa dibilang sangat mendominasi. Ia harus memandu serangkaian adat Belitung. Seperti saling tukar kue. Memiliki makna, mertua harus ingat akan menantunya, demikian pula sebaliknya. Namun demikian, pesta belumlah usai. Masih ada hari ketiga. Pasangan pengantin, dimandikan dengan air kembang 7 rupa. Mandik besimbor istilahnya. Merekapun menginjak telur. Cukup mengagetkan, saat pengantin ini berlari ke arah pelaminan. Gurauan umum beredar siapa yang mencapai pelaminan terlebih dahulu dialah yang mengatur roda kehidupan keluarganya kelak.

Adat Pernikahan

Pulau Bangka
            Tradisi ini di bagi masyarakat Melayu Bangka adalah sesuatu yang penting dan sakral, oleh sebab itu tata cara pengaturan perkawinan mulai dari persiapan acara, pelaksanaan upacara bahkan setelah selesai upacara harus direncanakan dan dipersiapkan dengan sesempurna mungkin. Perkawinan atau pernikahan secara tradisional bertujuan untuk menjalankan sunatullah, memenuhi kebutuhan biologis, mencapai status sosial tertentu dan pengekalan tali darah serta meneruskan keturunan.

            Kehidupan masyarakat dan adat istiadat Bangka sangat dipengaruhi oleh unsur budaya Melayu dan agama Islam, termasuk pelaksanaan upacara yang berhubungan dengan siklus kehidupan (life cycle) yang berhubungan dengan tahapan-tahapan krisis kehidupan seseorang (crisis rate) yang telah digariskan menurut adat Melayu karena Kepulauan Bangka Belitung termasuk di dalamnya bangka  merupakan daerah yang masuk dalam Rentang Tanah Melayu. Kemudian tata cara perkawinan umumnya dilaksanakan sesuai agama Islam.Pada tradisi perkawinan biasanya dimeriahkan dengan berbagai macam tarian, musik tradisional seperti Tari Campak, Tari Zapin dan musik dambus.

Kamis, 05 Mei 2016

Makanan Khas

Kue Jongkong
kue ini terdiri dari dua warna yaitu putih dan hijau,dimana yang berwarna hijau ditambahkan dengan air perasan daun pandan,sedangkan yang berwarna putih hanya olahahan gandum yang diisi air dan garam dapur, cara membuatnya cukup mudah.
pertama-tama siapkan tempatnya,kemudian bagian bawah isikan gula aren atau gula pasir setelah itu masukan kue yang berwarna hijau setengah dari wadah,kemidian baru isikan kue yang berwarna putih.tunggu sampai kuenya dingin,setelah itu siap untuk disajikan.
  

Makanan Khas

kue klepon
keu ini berhahan dasar ubi dan gandum,warnnya yang sanggat menarik yaitu berwarna hijau dan untuk aroma bauya ditmbahkan dengan air perasan daun pandan. untuk mempercantik tapilan biasanya di tambahkan dengan parutan kelapa tua yang di campuri dengan garam dapur
  

Makanan Khas

Mie kuah ikan
Mie ikan Bangka memang dikenal sebagai salah satu kuliner khas daerah ini. Mie ikan Bangka yang saat ini sedang populer adalah mie Koba. Padahal, ada mie ikan jenis lain yang tak kalah lezat dari mie Koba, yakni mie ikan Toboali. Sebagaimana namanya, mie ikan ini berasal dari Toboali di Bangka Selatan. Orang-orang boleh berduyun-duyun membeli mie Koba yang memang lebih mudah ditemui di Pangkalpinang, ibukota Kepulauan Bangka Belitung, tanpa harus susah payah pergi ke Koba di Bangka Tengah. Saya juga salah seorang yang gemar makan mie ikan Bangka. Namun, tidak seperti orang kebanyakan, saya justru lebih menyukai cita rasa mie ikan Toboali.

Saat terakhir pulang ke Pulau Bangka beberapa waktu yang lalu, mie ikan Toboali memang hanya bisa ditemui di Toboali di Bangka Selatan. Belum ada penjual yang membuka cabang di Pangkalpinang. Meskipun demikian, warung-warung mie ikan ini selalu ramai diserbu warga. Padahal di Toboali, ada beberapa warung mie ikan, namun tetap saja semuanya sesak dengan warga yang ingin menikmati kuliner khas Pulau Bangka ini. Ada beberapa perbedaan yang membuat saya lebih menyukai mie ikan Toboali dibandingkan mie ikan Koba, meskipun keduanya mie kuah ikan yang sama-sama berasal dari Pulau Bangka. Pertama, mie ikan Toboali rasanya tak semanis mie ikan Koba. Maklum, lidah saya kurang cocok dengan makanan manis. Selanjutnya, tidak seperti mie ikan Koba, mie ikan Toboali disajikan dengan potongan daun bawang yang membuat rasa mie semakin lezat saja. Terakhir, dan ini istimewanya mie ikan Toboali, mie ikan ini bisa dinikmati dicampur dengan sate ikan khas daerah sini.
      

Makanan Khas

Empek-empek udang

 
dibuat hanya oleh masyarakat nelayan yang tinggal di pesisir pantai, seperti di Desa Belo Laut Kecamatan Muntok Kabupaten Bangka Barat, memiliki cita rasa khas udang yang sangat jarang ditemui di wilayah-wilayah lain yang memproduksi makanan khas empek-empek.

Makanan Khas

Martabak


sejarah martabak manis
Martabak Manis atau yang aslinya bernama Hok Lo Pan awalnya adalah Makanan Khas Bangka Belitung.  Hok Lo Pan atau Martabak diciptakan oleh orang-orang Hakka ( Khek ) Bangka.  Satu-satunya di dunia, makanan orang suku Hakka (khek) yang memakai nama suku Hoklo. Hampir semua orang di kota-kota besar seperti di kota Jakarta mengenal Martabak Bangka, nama aslinya di Bangka adalah Hok Lo Pan (Martabak ). Arti Hurfiah Hok Lo Pan ( Martabak ) adalah Kue Orang Hok Lo. Hok Lo Pan ( Martabak ) adalah kue yang sangat sederhana. Membuatnya pun sepertinya mudah. Hanya 12 Menit menunggu Hok Lo Pan ( Martabak ) pun Jadi. Menggunakan tepung terigu, diolesi dengan mentega, ditaburi coklat butir campur kacang tanah dan wijen, atau Keju parut campur wijen, kemudian diberikan susu kental manis, selesai. Ringkasnya seperti itu. Kini, isi dalam Hok Lo Pan ( Martabak ) beragam, ada pisang, strawberry, blueberry, dll. Aslinya hanya wijen saja. 


Sejarah Martabak Telur

Setelah ditelusuri ternyata kata Martabak adalah merupakan bahasa Arab yang memiliki arti "terlipat". Sejarah dari kue Martabak ini sendiri juga cukup menarik untuk disimak, berawal dari seorang pemuda dari Tegal Jawa tengah yang bernama Ahmad bin Abdul Karim berkelana ke kota besar yaitu Semarang untuk berdagang pada tahun 1930. Kemudian beliau bertemu seorang warga India bernama Abdullah bin Hasan al-Malibary yang pandai memasak dan menjadi sahabat. Suatu ketika Abdullah yang berasal dari India ini diajak kekampung halaman Ahmad dan diperkenalkan dengan saudara perempuannya, dan perkenalan tersebut menghasilkan pernikahan antara keduanya. Abdullah ini juga pandai membuat sebuah masakan yang terbuat dari terigu yang disebut martabak, karena beliau tinggal di Indonesia sehingga membuat kue Martabak yang lebih disesuaikan untuk lidah orang Jawa yang suka memakan sayuran, yaitu martabak yang berisi sayuran yang dicampur dengan bahan lainnya.